Nicemommy's Blog

NiceMommy Stories

Mengendalikan Emosi saat Kecewa



Saat timbul perasaan kecewa karena kenyataan yang dihadapi tidak sesuai dengan harapan-harapan dalam diri, gejolak emosi marah akan meningkat. Makin jauh perbedaan antara harapan dan kenyataan, maka akan makin menguat gejolak emosi marah. Bila gejolak emosi sudah sangat tinggi, seringkali tindakan-tindakan yang dilakukan tidak terkendali, jauh menyimpang dari pertimbangan akal sehat. Atas dasar itulah, sangat penting mengenali sedini mungkin gejolak-gejolak emosi marah yang ada dalam diri, karena dengan mengenali diri dalam keadaan marah, langkah-langkah yang terarah akan bisa dilakukan. Sebaliknya apabila gejolak emosi yang ada dalam diri tidak bisa dikenali, sehingga luapan marah meningkat dengan cepat, maka pencetusan marah ini bisa berupa hal-hal yang sangat memalukan. Terkait dengan perasaan kecewa Saudari S pada waktu menghadapi perilaku kakak ipar, sangat penting menguasai emosi sehingga reaksi yang ditunjukkan terhadap kakak ipar bisa dijaga atau dikendalikan. Dengan tetap menunjukkan diri dalam keadaan terkendali pada waktu menyampaikan suatu pendapat, diri akan nampak matang. Sebaliknya apabila emosi tak terkendali pada waktu merasa kecewa terhadap kakak ipar, kata-kata yang tercetus tidak akan terkendali dengan baik, sehingga perilaku yang ditunjukkan akan kekanak-kanakan. Untuk meredakan marah pada waktu kecewa carilah pertimbangan-pertimbangan yang dapat mengubah penilaian, sehingga bisa memaklumi perilaku orang lain yang mengecewakan itu, Misalnya: ”Kakak ipar berperilaku demikian mungkin karena dia menghadapi banyak masalah, sehingga tekanan perasaan itu dia cetuskan dalam bentuk perilaku yang terlalu mengatur orang lain”.

Menyadarkan suami tentang Perannya
Sejalan dengan meningkatnya kemampuan menguasai diri, selanjutnya ajak suami untuk berdiskusi mengenai posisi dia sebagai kepala keluarga. Sampaikan kepada suami bahwa bertahannya keharmonisan keluarga yang telah dibangun sangat ditentukan oleh keputusan-keputusan bijaksana yang diambil oleh kepala rumah tangga. Tekankanlah bahwa tidak sedikit rumah tangga yang sudah dibangun dengan baik akhirnya hancur berantakan karena kepala rumah tangganya kurang mampu bersikap tegas saat menghadapi suatu masalah. Dalam kaitannya dengan masalah yang sedang dihadapi, yaitu masalah perilaku kakak ipar yang terlalu campur tangan mengatur kehidupan rumah tangga adiknya ajaklah suami untuk melihat permasalahan dengan jernih tentang dampak dari sikap dan perilaku kakak ipar tersebut. Berilah dorongan kepada suami untuk berani menyampaikan pendapat kepada kakaknya. Apabila suami merasa ragu menyampaikan pendapat kepada kakaknya karena khawatir akan berkembang pertengkaran yang lebih besar, tekankanlah kepada suami bahwa memendam permasalahan tidak menjamin akan menghilangkan permasalahan, tidak jarang permasalahan kecil bisa berkembang menjadi besar karena selalu ditutup-tutupi. Dalam memberikan dorongan kepada suami untuk berani terbuka, sampaikanlah juga bahwa keterbukaan itu tidak hanya terbatas kepada kakak, tetapi juga kepada istri. Bila ada perilaku istri yang kurang berkenan ia pun harus mau menyampaikannya sehingga bisa dicari jalan keluar terbaik.

Mengenai dampak dari penanaman aturan yang tidak konsisten, di satu sisi orangtua melarangnya tetapi orang lain membolehkannya, atau sebaliknya, tentu dapat mempengaruhi perkembangan moral anak. Anak tidak mempunyai pegangan pasti tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dalam lingkungan seperti itu anak seringkali memilih tindakan yang dapat menguntungkan dirinya, tanpa mau memikirkan dampak lebih jauh dari tindakannya itu. Berjudi misalnya, bila orangtuanya melarang dia berjudi sedangkan bibi atau kakeknya membolehkan dia berjudi karena dianggap kegiatan itu hanya sebagai permainan, anak akan pergi ke tempat bibi atau kakeknya untuk minta uang saat orangtuanya melarang berjudi. Makin tidak konsisten aturan-aturan yang diterapkan terhadap anak, maka anak akan makin tidak punya pegangan, sehingga super ego atau hati nuraninya kurang berkembang dengan baik. Atas dasar itulah maka sangat penting orangtua serta orang dewasa lain di lingkungan anak mempunyai satu pendapat tentang suatu aturan. Bila orangtua tidak membolehkan, orang lain di lingkungan anak juga tidak membolehkannya. Dengan demikian anak mempunyai pegangan yang pasti tentang perilaku yang membanggakan dan perilaku yang memalukan.

December 18, 2008 - Posted by | Uncategorized |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: